Berhimpunlah untuk sejuta Aksi Hikmat demi Kesatuan dalam Kasih, seperti KRISTUS telah "Menebus" kita demi suatu hubungan yang Kekal.(Baziz Boeghi’z IPTH B 0708)

Senin, 10 Januari 2011

PLURALISME & SIMBOLISME DALAM AGAMA


Abdy Busthan
Ketika Gereja hadir dan mendeklarasikan dirinya didalam dunia, maka secara langsung maupun tidak langsung, Gereja tersebut akan berhadapan dengan 3 (Tiga) hal, yaitu : Lingkungan sekitar, Agama-agama lain dan Negara. Ketiga hal tersebut adalah merupakan kenyataan “Aksiomatis”, yang dipandang sebagai bagian dari kehidupan bergereja itu sendiri dan tidak dapat dilenyapkan tetapi haruslah di sikapi.
Disini Gereja harus menyadari bahwa diluar lingkungan Gereja (Lingkungan Eksternal), ada Perbedaan yang harus di sikapi. Karena hidup bukanlah hamparan warna yang seragam. Kita pasti berbeda, karena dengan perbedaan kita bisa belajar untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya. Namun haruslah disadari pula, bahwa hidup dalam perbedaan sangat berpotensi menimbulkan gesekan, konflik, tindakan anarkis dan lain-lainnya.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. Karena itu, sangatlah dibutuhkan sikap toleransi dalam hidup bersama dan saling menghormati antara satu dengan yang lainnya. Sebagai suatu Lembaga, maka Agama seharusnya memiliki peran yang konstruktif (membangun).
Pada kenyataannya, justru Agama bisa menimbulkan berbagai masalah baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini disebabkan karna kurangnya pemahaman tentang cara hidup dalam kebersamaan. Untuk itu, sebagai warga atau pemuda-pemudi dalam Gereja maka kita harus menyikapi hal ini secara kritis.
Terdapat dua hal yang sering mendasari terjadinya konflik antar umat beragama di Indonesia bahkan di seluruh dunia, yakni kurangnya pemahaman tentang makna Simbolisme dan Pluralisme atau Kerukunan antar umat beragama.
1.   Simbolisme Di dalam Agama
Kata ”Simbol” berasal dari bahasa Yunani yakni sumbolon yang berarti ”Tanda pengingat” (benda ingat-ingatan). Dimana bila dua orang pernah berkenalan, lalu salah seorang dari mereka memberi suatu benda atau kata sandi sebagai kenang-kenangan kepada yang lain ketika hendak berpisah. kemudian ketika mereka bertemu lagi maka benda atau kata sandi itu dapat ditunjukkan sebagai tanda pengenal. Contoh lainnya, ketika kita hendak bepergian dalam waktu yang lama atau meninggalkan kampung halaman kita untuk merantau ke kampung atau tempat lain, biasanya orang tua kita sering memberikan sesuatu yang berupa benda seperti kalung, cincin, baju, selendang dan sejenisnya, agar kita dapat mengingat orang tua kita ketika berada di tempat perantauan. Misalnya juga seorang bayi ketika baru lahir diRumah Sakit biasanya langsung diberikan tanda agar tidak tertukar.
Begitupun dalam keseharian terkadang kita berpindah dari satu simbol ke simbol lainnya. Seperti nama panggilan kita. Aku Amos, kadang ada yang panggil Bro, dipanggil Pak juga boleh, dan banyak lagi. Apakah esensi kita berubah ? jawabannya sudah pasti tidak. Apakah yang memanggilku salah orang ? juga tidak. Tapi dalam lingkungan dimana kita berada, kita disimbolkan dengan Amos, sahabat sejatinya Petrus. Jadi, nama kita juga merupakan tanda dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan simbolisme adalah hal-hal yang berhubungan dengan penggunaan simbol atau lambang tertentu untuk mengekspresikan gagasan tertentu. Dalam agama, simbol keagamaan juga memiliki fungsi sebagai tanda, pengingat, pelambang dari hal-hal yang agung ataupun menggambarkan peristiwa-peristiwa keagamaan yang terjadi. Dengan kata lain, simbol juga dapat dipahami sebagai sarana umat untuk mengerti agamanya.
Agama Kristen sendiri memiliki sejumlah simbol. Dan yang sangat populer adalah Salib. Namun pada masa awal Kekristenan, umat sering menggunakan dua simbol, yaitu sebagai berikut :
1)   Ayam jago (Matius 26 : 74-75)
2)   Ikan sebagai Simbol ;
ü Dalam bahasa Yunani ikan ditulis dengan huruf ; I-KH-TH-U-S dan ditafsirkan sebagai akronim dari Iesous (YESUS) Khristos (KRISTUS), Theou (ALLAH), hUios (ANAK) Soter (JURUSELAMAT) yakni Kristus Anak Allah Juruselamat.
ü Ikan juga melambangkan kisah Yunus, yang selama tiga hari berada dalam perut ikan. Dan peristiwa ini menunjuk pada Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.(Mat 12:40;bnd Yunus 2)
Beberapa contoh simbol Kekristenan
JENIS
UNGKAPAN BENTUK
Kata
Haleluyah, Syalom
Objek
Yerusalem, Sion, Pohon Anggur
Barang / Benda
Salib, Patung Bunda Maria / Yesus, Rosario, Jubah Pendeta, Minyak Urapan
Tindakan
Menutup mata dan melipat tangan, Mengangkat tangan untuk memberkati, Berlutut, Sakramen
Peristiwa
Natal, Paskah

Simbol atau tanda bukanlah suatu Keselamatan, melainkan hanya sebuah alat (Sakramentalia) untuk menuju kepada keselamatan yang sesungguhnya (Sakramen Sejati yaitu Allah). Jadi, kita tidak perlu untuk mengagung-agungkan suatu simbol keagamaan dengan berbagai tujuan. Karna hal ini dapat menyebabkan kita lebih melihat simbol tersebut dari pada apa yang disimbolkan. Sikap seperti ini sangat berbahaya dan menimbulkan Kesombongan Rohani.
2.    Pluralisme Agama
Berdasarkan Kamus Kata-kata Asing dalam Bahasa Indonesia, Pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk berdasarkan sudut pandang sosial. Khususnya dalam kondisi masyarakat ber-Agama di Indonesia yang majemuk (Lebih dari satu atau beraneka ragam). Pluralisme agama bisa dipahami dalam minimum tiga kategori.
a)      Kategori Sosial, dalam pengertian ini, pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada dan hidup”. Secara sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati iman atau kepercayaan dari penganut agama lainnya.
b)      Kategori Etika dan Moral, dalam hal ini pluralisme agama berarti bahwa ”semua pandangan moral dari masing-masing agama bersifat relatif dan sah”. Jika kita menganut pluralisme agama dalam nuansa etis, kita didorong untuk tidak menghakimi penganut agama lain yang memiliki pandangan moral berbeda, misalnya terhadap isu pernikahan, aborsi, hukuman gantung, eutanasia, dll.
c)      Kategori Teologi-Filosofi. Secara sederhana berarti ”agama-agama pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama-sama menyelamatkan”. Mungkin kalimat yang lebih umum adalah ”banyak jalan menuju Roma”. Semua agama menuju pada Allah, hanya jalannya yang berbeda-beda.
Faktor-faktor Pendorong Pluralisme Agama :
Ada banyak faktor yang mendorong orang untuk mengadopsi pluralisme agama. Beberapa faktor yang signifikan adalah:
1)   Iklim Demokrasi : Dalam iklim demokrasi, kata toleransi memegang peranan penting. Sejak kecil dinegara ini kita diajar untuk saling menghormati kemajemukan suku, bahasa dan agama. Berbeda-beda tetapi satu jua. Begitulah motto yang mendorong banyak orang untuk berpikir bahwa semua perbedaan yang ada pada dasarnya bersifat tidak hakiki. Beranjak dari sini, kemudian toleransi terhadap keberadaan penganut agama lain dan agama-agama lain mulai berkembang menjadi penyamarataan semua agama. Bukankah semua agama mengajarkan kebaikan? Jadi, tidak masalah Anda menganut yang mana!
2)   Pragmatisme : Dalam konteks Indonesia maupun dunia yang penuh dengan konflik horisontal antar pemeluk agama, keharmonisan merupakan tema yang digemakan dimana-mana. Aksi-aksi ”fanatik” dari pemeluk agama yang bersifat destruktif dan tidak berguna bagi nilai-nilai kemanusiaan membuat banyak orang menjadi muak. Dalam konteks ini, pragmatisme bertumbuh subur. Banyak orang mulai tertarik pada ide bahwa menganut pluralisme agama (menjadi pluralis) akan lebih baik daripada seorang penganut agama tertentu yang ”fanatik”. Akhirnya, orang-orang ini terdorong untuk meyakini bahwa keharmonisan dan kerukunan lebih mungkin dicapai dengan mempercayai pluralisme agama daripada percaya bahwa hanya agama tertentu yang benar. Yang terakhir ini tentu berbahaya bagi keharmonisan masyarakat. Begitulah pola pikir kaum pragmatis.
3)   Relativisme : Kebenaran itu relatif, tergantung siapa yang melihatnya. Ini adalah pandangan yang populer, sehingga seorang tukang sapu pun memahaminya. Dalam era postmodern ini penganut relativisme percaya bahwa agama-agama yang ada juga bersifat relatif. Masing-masing agama benar menurut penganutnya-komunitasnya. Kita tidak berhak menghakimi iman orang lain. Akhirnya, kita selayaknya berkata ”agamamu benar menurutmu, agamaku benar menurutku. Kita sama-sama benar”. Relativisme agama seolah-olah ingin membawa prinsip win-win solution ke dalam area kebenaran.
4)   Perenialisme : Filsafat perennial adalah kepercayaan bahwa Kebenaran Mutlak (The Truth) hanyalah satu, tidak terbagi, tetapi dari Yang Satu ini memancar berbagai “kebenaran” (truths). Sederhananya, Allah itu satu, tetapi masing-masing agama meresponinya dan membahasakannya secara berbeda-beda, maka muncullah banyak agama. Hakekat dari semua agama adalah sama, hanya tampilan luarnya yang berbeda.
Reaksi Destruktif dalam Pluralisme :
1)   Fundamentalisme ; Suatu reaksi yang ingin menutup diri dengan cara menolak kehadiran serta hubungan dengan agama lain karena menganggap agamanya yang paling benar. Sikap demikian biasanya disertai dengan fanatisme dan eksklusifisme.
2)   Proselistisme : Pluralisme terjadi dalam perjumpaan dengan agama-agama lain, dimana agama seseorang Dipaksa atau Terpaksa berpindah pada keagamaan yang ditemui atau sebaliknya.
3)   Sinkritisme : Reaksi ini bersifat terbuka, dimana reaksi ini berusaha untuk mencari hal-hal baik dari agama lain untuk dapat diikuti bersama dengan agamanya sendiri.
Tinjauan Kritis : Pluralisme Agama Dalam Perspektik Kristen
Pluralisme agama memang menjanjikan perdamaian, karena ingin membangun teologi yang terdengar amat toleran, ”Semua agama sama-sama benar dan Semua agama menyelamatkan”. Walaupun demikian teologi pluralisme agama pada dasarnya menyangkali Iman Kristen sejati yang kembali pada Alkitab. Kita akan memberikan beberapa kritik terhadap pluralisme agama ini.
a)      Pluralisme agama merupakan pendangkalan Iman : Orang yang percaya pada teologi pluralisme agama biasanya tidak benar-benar mendasarkan pandangannya atas dasar kitab suci agama yang dianutnya atau tidak benar-benar berteologi berdasarkan sumber utama (kitab suci). Jika kita benar-benar jujur membaca kitab suci agama-agama maka kita menemukan klaim-klaim eksklusif yang memang tidak bersifat saling melengkapi tetapi saling bertentangan. Sebagai contoh: Buddhisme tidak percaya pada kehidupan kekal (surga) sebagai tempat bersama Allah. Buddhisme percaya pada Nirwana dan Reinkarnasi. Nirwana adalah Keadaan Damai yang membahagiakan, yang merupakan kepadaman segala perpaduan yang bersyarat (Dhammapada bab XXV). Bagi Budhisme, tidak ada neraka dalam definisi ”tempat dan kondisi dimana Allah menghukum manusia”. Yang ada adalah reinkarnasi bagi mereka yang belum mampu memadamkan keinginan-keinginan duniawinya. Hal ini tentu bertentangan dengan konsep Kristen yang percaya surga dan neraka. Bahkan jika kita berkata bahwa Islam juga mempercayai surga dan neraka, tetap terdapat perbedaan konsep (Lih.Q.S.6:128; 78:31-34). Disini kita melihat bahwa pluralisme adalah konsep yang mereduksi keunikan pandangan agama masing-masing.
b)     Pluralisme Agama memiliki dasar yang lemah : Pragmatisme yang mendasari pluralisme agama adalah sebuah cara berpikir yang tidak tepat.Demi keharmonisan maka mengganggap semua agama benar adalah mentalitas orang yang dangkal dan penakut. Selanjutnya, relativisme kebenaran adalah sebuah pandangan yang salah. Penganut relativisme agama tampaknya sering tidak bisa membedakan antara relativisme dalam hal selera (enak/tidak enak, cantik/tidak cantik), dan sudut pandang (ekonomi, sosiologi) dengan kemutlakan kebenaran. Kebenaran itu mutlak, sedangkan selera dan sudut pandang memang relatif.
c)      Penganut pluralisme Agama seringkali tidak konsisten : Penganut pluralisme agama sering menuduh golongan yang percaya bahwa hanya agamanyalah yang benar (sering disebut eksklusivisme atau partikularisme dalam  teologi Kristen) sebagai fanatik, fundamentalis dan memutlakkan agamanya. Padahal dengan menuduh demikian, kaum pluralis telah menyangkali pandangannya sendiri bahwa tiap orang boleh meyakini agamanya masing-masing secara bebas. Jika seorang  pluralis anti terhadap kaum eksklusivis maka ia bukanlah pluralis yang konsisten. Dalam realita, kita menemukan banyak pluralis yang seperti itu dan memutlakkan pandangan bahwa ”semua agama benar”. Kaum pluralis seringkali terjebak dalam eksklusivisme baru yang mereka buat yaitu hanya mau menghargai kaum pluralis lainnya dan kurang menghargai kaum eksklusivis.
d)     Pluralisme Agama menghasilkan toleransi yang semu : Jika kita membangun toleransi atas dasar kepercayaan bahwa semua agama sama-sama benar, hal itu adalah toleransi yang semu. Toleransi yang sejati muncul dalam kalimat berikut, ”Meskipun saya tidak meyakini iman-kepercayaan Anda, meskipun iman Anda bukan kebenaran bagi saya, saya sepenuhnya menerima keberadaan Anda. Saya gembira bahwa Anda ada, saya bersedia belajar dari Anda, saya bersedia bekerja sama dengan Anda.”
Tentang kemajemukan Agama, terdapat 3 (Tiga) sikap dalam komunitas Kristen yang perlu di waspadai agar tidak terjadi perselisihan antar umat beragama, yakni sebagai berikut :
1)      Eksklusif (Kebenaran dan Keselamatan hanya ada melalui jalan Kristus),
2)      Inklusif (Kristus juga hadir serta bekerja dikalangan mereka yang tidak mengenal Kristus),
3)      Pluralis (Allah dapat dikenal melalui bermacam-macam jalan)
Pertanyaan yang timbul sebagai reaksi dari Misi Penginjilan yang terdapat di dalam Kitab Matius 28 : 19-20 adalah : Bagaimanakah suatu Penginjilan dapat dilakukan jika seorang Kristen harus menggunakan sikap Pluralisme tersebut ? dan hal yang kedua, terkait dengan Jalan Keselamatan yang terdapat dalam Kitab Yohanes 14 : 6, ketika murid Yesus yang bernama Tomas bertanya kepada Yesus tentang Jalan keselamatan : Haruskah kita memandang setiap agama yang ada di indonesia sama-sama menuju kepada Keselamatan walaupun dengan jalan yang berbeda ? yang berarti bahwa semua agama yang ada merupakan jalan Keselamatan yang telah di kukuhkan oleh Yesus Kristus ? Untuk menjawab kedua hal tersebut, kita perlu melihat secara kritis dan bijaksana agar tercipta suatu kondisi yang kondusif dan selaras dalam menjalankan Misi Kristus didalam kehidupan yang Pluralistik . Seperti dalam kitab Matius 10 : 16, Gereja dan warga Gereja harus bisa menempatkan atau membawa diri dalam situasi dan kondisi dimana Gereja atau warga Gereja tersebut berada (Kontekstualisasi).
Kesimpulan 
Pluralisme harus di pahami sebagai semangat untuk Menghargai dengan Menghormati keyakinan agama lain. Dimana penganut Agama lain tidak dilihat sebagai musuh, lawan dan saingan. Sebaliknya mereka adalah kawan sekerja, saudara, sesama yang memiliki tujuan yang sama. Dan sesuai dengan Misi penginjilan, kita juga harus menyadari bahwa Pluralisme agama dalam pengetian teologi-filosofi memiliki kelemahan. Berdasarkan epistemologi Alkitab, kita harus menolak pandangan ”semua agama menuju pada Allah dan semua agama menyelamatkan”. Orang Kristen perlu berani mengakui perkataan Yesus "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Sikap demikian bukanlah fanatik tetapi konsisten. Fanatik adalah mempercayai sesuatu atau seseorang tanpa bersikap kritis terhadapnya. Seseorang yang belum pernah belajar semua agama tetapi terburu-buru mengatakan semua agama pada dasarnya sama justru adalah orang yang fanatik terhadap pluralisme agama. Akhirnya, tentu saja kita perlu menerima pluralisme agama secara sosial, tetapi pluralisme agama dalam kategori teologi-filosofi harus kita tolak dengan tegas.  ( Di Tulis Oleh : Abdy Busthan )

Senin, 10 Mei 2010

Informasi Pendaftaran Mahasiswa Baru Universitas Kristen Artha Wacana Kupang

Fakultas Dan Program Studi

1. Theologi :

Program Studi :

Ø Theologi Agama Kristen (Status : Terakreditasi)

2. Ekonomi :

Program Studi :

Ø Manajemen (Status : Terakreditasi),

Ø Akutansi (Status : Terakreditasi)

3. Teknologi Pertanian :

Program Studi :

Ø Teknologi Hasil pertanian (Status : Terakreditasi)

Ø Mekanisme Pertanian (Status : Terakreditasi)

4. Hukum :

Program Studi :

Ø Ilmu Hukum (Status Terakreditasi)

5. Keguruan Dan Ilmu Pendidikan :

Program Studi :

Ø Ilmu Pendidikan Theologi (Status Terakreditasi)

Ø Pendidikan Bahasa Inggris (Status Terakreditasi)

Ø Pendidikan Olah Raga (Status Terakreditasi)

Ø Pendidikan Biologi (Status Proses Akreditasi)

6. Perikanan Dan Ilmu Kelautan :

Program Studi :

Ø Manajemen Sumber Daya Perairan (Status Terakreditasi)

Ø Teknologi Hasil Perikanan (Status Terakreditasi)

Pendaftaran Dan seleksi

1. Tempat Pendaftaran

Jl. Adi Sucipto – Oesapa PO BOX 147 Kupang – NTT

Telpon / Fax : 0380 881676

Email : ukawkupang@yahoo.com

Pukul 08.00 – 13.00

2. Pendaftaran :

Ø Gelombang 1 : 11 Mei – 30 Juni 2010

Ø Gelombang II : 01 Juli – 17 Agustus 2010

Ø Fakultas Theologi Hanya Gelombang 1

3. Ujian Tertulis :

Ø Gelombang 1 : 03 Juli 2010

Ø Gelombang II : 21 Agustus 2010

4. Syarat Pendaftaran

Ø Membayar biaya pendaftaran (Mahasiswa regular rp.90.000.000 untuk satu pilihan dan 100.000.000 untuk dua pilihan sosial dan eksakta serta 100.000.000 untuk Ekstention)

Ø Mengisi formolir pendaftaran dengan melampirkan foto copiy ijazah atau surat keterangan lulus dan NEM yang telah dilegalisasi masing-masing 2 lembar

Ø Pas foto 3X4 cm (3 lembar)

Ø Bagi calon mahasiswa yang mendaftar di Fakultas Theologi selain poin 1 - 3, di wajibkan melampirkan surat rekomendasi dari Jemaat asal dan Majelis Sinode, Foto copy surat babtis (1 lembar), Foto copy surat sidi (1 lembar).

Sabtu, 08 Mei 2010

Teori Belajar Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran

Buku : "Wawasan Pembelajaran" (Halaman 1-15)
Oleh : Drs. Agustinus MD Maniyeni, M.Pd

Teori behaviorisme merupakan salah satu bidang kajian psikologi eksperimental yang kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan. Meskipun dikemudian hari muncul berbagai aliran baru sebagai reaksi terhadap behaviorisme, namun harus diakui bahwa teori ini telah mendominasi argumentasi tentang fenomena belajar manusia hingga penghujung abad 20.Menurut teori behaviorisme, belajar dipandang sebagai perubahan tingkah laku, dimana perubahan tersebut muncul sebagai respons terhadap berbagai stimulus yang datang dari luar diri subyek. Secara teoritik, belajar dalam konteks behaviorisme melibatkan empat unsur pokok yaitu: drive, stimulus, response dan reinforcement. Apa yang dimaksudkan dengan drive yaitu suatu mekanisme psikologis yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya melalui aktivitas belajar. Stimulus yaitu ransangan dari luar diri subyek yang dapat menyebabkan terjadinya respons. Response adalah tanggapan atau reaksi terhadap rangsangan atau stimulus yang diberikan. Dalam perspektif behaviorisme, respons biasanya muncul dalam bentuk perilaku yang kelihatan. Reinforcement adalah penguatan yang diberikan kepada subyek belajar agar ia merasakan adanya kebutuhan untuk memberikan respons secara berkelanjutan.

Pada bagian berikut ini secara berturut-turut akan dideskripsikan secara ringkas pandangan empat tokoh behaviorisme yakni Ivan Petrovich Pavlov, Edward Thorndike, Watson, dan Skiner. Upaya mengedepankan teori empat tokoh ini tidak dimaksudkan untuk mengabaikan pandangan para behavioris lainnya, melainkan semata-mata didasarkan pada pertimbangan bahwa teori behaviorisme Pavlov, Thorndike, Watson dan Skiner paling banyak dirujuk dalam dunia pendidikan. Disamping itu, pandangan Pavlov, Thorndike, Watson, dan Skiner umumnya telah digunakan secara luas sebagai asumsi dalam pengembangan model-model pembelajaran, maupun dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran yang berbasis pada teori behaviorisme. Selengkapnya : Silahkan Dibaca Dalam Buku "Wawasan Pembelajaran" Untuk Informasi mengenai Buku ini, Silahkan Menghubungi Nomor HP. 085239323023 / 085239117746


Minggu, 02 Mei 2010

Salam Sang Khalik

(Ditulis Oleh : ABDY BUSTHAN)

Kita menjadi tidak berguna ketika kita membiarkan kekurangan yang ada pada diri kita mengintervensi kelebihan yang kita miliki. disinilah cikal bakal itu, ketika kegelisahan komitmen menjadi sebuah kesalahan tak beralasan yang mampu menghantarkan Vitrah kita pada suatu konsep kebijakan yang penuh dengan muatan “ Tidak Hikmat “. Nah, dilema-dilema logika akan "Melacurkan" kebenaran filsafat menjadi dongeng di waktu tidur yang setiap saat akan mengancam kemampuan adrenalin kita ketika terkondisikan menjadi "Garis Start Kegagalan yang menakutkan". Lalu, implementasi dari penjelmaan Hirarki akan menjadi sebuah Paradigma Negatif yang terinveksi dari sistemik alam pemikiran yang cepat berubah sejatinya sebuah Naskah yang mencetuskan “Keraguan” sebagai Momok yang tak Berujung. Dimanakah kita harus memposisikan Emansipasi Akal dan Iman kita ? lalu apa yang seharusnya di Refleksikan dalam Narasi dan Gambar Kehidupan ketika Sang Khalik memintanya? adakah Nalar Religi mampu menjawabnya ? Bersahajalah ketika hendak melangkah pada seratus meter pertama, karena dikatakan Bijak jika seorang Petarung sejati mampu untuk membedah kekalahan demi sebuah kemenangan. Jadi, kita tidak harus menang dalam suatu kompetisi yang ada. Tetapi jadikanlah momen itu sebagai “Medali Emas” untuk memperebutkan Wara–Wiri Kesuksesan yang dapat memampukan kita untuk tampil “Apa adanya, bukan ada apanya”. Ada banyak Pranata hidup yang bisa menjadi Praduga tak bersalah ketika kita meniup Sangkakala di hadapan dua pilihan bahkan lebih. Untuk itu, sudah selayaknyalah kita mengumpulkan komitmen konstruktif kita agar dapat di Deklarasikan ketika Sang Khalik Berkata : Banyak yang TERPANGGIL tetapi SEDIKIT yang terpilih.

Antara Norma & Nilai

(Ditulis Oleh : Astrid Ndaumanu)
Norma : berasal dari bahasa latin yakni norma, yang berarti penyikut atau siku-siku, suatu alat perkakas yang digunakan oleh tukang kayu. Dari sinilah kita dapat mengartikan norma sebagai pedoman, ukuran, aturan atau kebiasaan. Jadi norma ialah sesuatu yang dipakai untuk mengatur sesuatu yang lain atau sebuah ukuran. Dengan norma ini orang dapat menilai kebaikan atau keburukan suatu perbuatan.Jadi secara terminologi kiat dapat mengambil kesimpulan menjadi dua macam. Pertama, norma menunjuk suatu teknik. Kedua, norma menunjukan suatu keharusan. Kedua makna tersebut lebih kepada yang bersifat normatif. Sedangkan norma norma yang kita perlukan adalah norma yang bersifat prakatis, dimana norma yang dapat diterapkan pada perbuatan-perbuatan konkret Dengan tidak adanya norma maka kiranya kehidupan manusia akan manjadi brutal. Pernyataan tersebut dilatar belakangi oleh keinginan manusia yang tidak ingin tingkah laku manusia bersifat senonoh. Maka dengan itu dibutuhkan sebuah norma yang lebih bersifat praktis. Memang secara bahasa norma agak bersifat normatif akan tetapi itu tidak menuntup kemungkinan pelaksanaannya harus bersifat praktis. Nilai : Dalam membahas nilai ini biasanya membahas tentang pertanyaan mengenai mana yang baik dan mana yang tidak baik dan bagaimana seseorang untuk dapat berbuat baik serta tujuan yang memiliki nilai. Pembahasan mengenai nilai ini sangat berkaitan dangan pembahasasn etika. Kajian mengenai nilai dalam filsafat moral sangat bermuatan normatif dan metafisika.Penganut islam tidak akan terjamin dari ancaman kehancuran akhlak yang menimapa umat, kecuali apabila kita memiliki konsep nilai-nilai yang konkret yang telah disepakati islam, yaitu nilai-nilai absolut yang tegak berdiri diatas asas yang kokoh. Nilai absolut adalah tersebut adalah kebenaran dan kebaikan sebagai nilai-nilai yang akan mengantarkan kepada kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat secara individual dan sosial.

Mengapa Manusia Berfilsafat ?

(Ditulis Oleh : Rudy Sompu & Elkana )

Mengulang judul diatas, "Mengapa manusia berfilsafat?" kekaguman atau keheranan, keraguan atau kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan merupakan 3 hal yang mendorong manusia utuk berfilsafat. Plato (filsuf Yunani, guru dari Aristoteles) menyatakan bahwa : Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan kepada kita untuk meyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat. Berbeda dengan Plato; Agustinus dan Rene Descartes beranggapan lain. Menurut mereka, berfilsafat itu bukan dimulai dari kekaguman atau keheranan, tetapi sumber utama mereka berfilsafat dimulai dari keraguan atau kesangsian. Ketika manusia heran, ia akan ragu-ragu dan mulai berpikir apakah ia sedang tidak ditipu oleh panca inderanya yang sedang keheranan? Rasa heran dan meragukan ini mendorong manusia untuk berpikir lebih mendalam, menyeluruh dan kritis untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang hakiki. Berpikir secara mendalam, menyeluruh dan kritis seperti ini disebut dengan berfilsafat. Bagi manusia, berfilsafat dapat juga bermula dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada dirinya. Apabila seseorang merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada saat mengalami penderitaan atau kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasannya itu manusia berfilsafat. Ia akan memikirkan bahwa diluar manusia yang terbatas, pastilah ada sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan kemajuan untuk menemukan kebenaran yang hakiki.

Gereja Sebagai Tubuh Kristus

(Ditulis Oleh : ABDY BUSTHAN)

Ketika kita membaca Kitab Yohanes 17, maka akan jelas bagi kita bahwa disitu Yesus mengucapkan Doa yang merupakan Dasar terpenting untuk Keesaan Allah. Dan Doa yang diucapkan Yesus ini kalau kita amati secara jelas, maka nampaklah bahwa doa ini bukanlah untuk dunia melainkan khusus ditujukan untuk Gereja. Lalu yang menjadi pertanyaannya disini adalah “ Bagaimana sebenarnya hubungan antara Kristus dan Gereja-Nya? “ Serta apa makna Theologis yang terkandung didalam Hubungan itu ? untuk itu marilah kita sama-sama melihat bagaimana sebenarnya yang Allah kehendaki mengenai kesatuan orang-orang beriman dalam perkataan dan perbuatan yang seturut akan kehendak Allah di dalam Kitab Efesus 4;1-16. dan untuk itu kelompok kami akan merincikannya sebagai berikut :

1. Panggilan Gereja Berhubungan dengan Keesaan-Nya ( Efesus 4 ; 1-6 ), Menurut kami, yang pertama dan utama dalam hal ini yaitu kita harus memahami bahwa panggilan Umat Kristen adalah sebenarnya merupakan panggilan Allah yang dijawab melalui Pertobatan dalam wujud perilaku yang mengikuti pertobatan itu. Hidup berpadanan disini sebenarnya menunjukkan hubungan antara rencana Allah dan penerimaan rencana itu oleh seluruh orang Kristen dalam kehidupannya sehari-hari. Disini kelompok kami coba membandingkan dengan Galatia 5;22-23, dan kami mendapatkan dua hal yang tercantum didalamnya dengan penuh arti jika dihubungkan dengan persekutuan Gereja. Hal yang pertama yaitu : Keesaan yang diciptakan oleh Roh Kudus; dan yang kedua yaitu tanggung jawab orang Kristen untuk memupuk Keesaan itu dengan hidup bersekutu bersama dengan sesama Kristen lainnya dalam ikatan damai sejahterah.

2. Kasih Yang mempersatukan, Saya sangat setuju dengan efesus 4 yang menekankan tentang “ Kasih “ yang harus menjiwai seluruh hubungan orang percaya dengan sesamanya yang percaya. karena disini kami melihat Kasih itulah yang menjadi pengikat mereka satu sama lainnya. Dengan demikian orang-orang percaya itu bukan berdiri sendiri-sendiri tetapi mereka saling berkaitan dan bersama-sama mewujudkan suatu kesatuan yaitu Kesatuan Keluarga Allah dan Kesatuan Bait Allah di Dalam Keesaan Allah sendiri. Untuk itu Kesatuan yang telah diberikan oleh Allah hendaklah dipelihara, dijaga dan dilindungi seperti yang dikatakan dalam Efesus 4: 3 disini Jemaat dinasehati supaya berusaha memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahterah, sehingga kesatuan itu mempersatukan umat kristen didalam Kasih dan bukan karena hasil jerih payah mereka. Intinya itu semua adalah pemberian dari pada Roh, dan oleh karena itu Kesatuan itu disebut Kesatuan Roh. Yang harus dipelihara oleh ikatan damai sejahterah yaitu damai sejahtera yang telah diperoleh Kristus sebagai sang damai sejahterah kita.( Efesus 2;14 ).

3. Gereja adalah penjelmaan Tubuh Kristus, Kami sangat sepakat jika dikatakan Gereja adalah "Tubuh Kristus", Karena Gereja adalah persekutuan orang-orang tebusan Tuhan, yang di dalamnya Dia menjadi Kepala. "Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu." (Kolose 1:18) jadi menurut kami, Gereja terjelma dan memiliki keberadaannya, karena "Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." (Efesus 5:25) Gereja ditumbuhkan oleh kehidupan-Nya yang dinamis, yang "menguduskannya sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman." (Efesus 5:26) Kristus akan datang kembali untuk mengambilnya sebagai milik-Nya, "bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya." (Wahyu 21:2) "supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri- Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela." (Efesus 5:27) Kalau kita melihat mengenai kelahiran gereja yang diteguhkan oleh kedatangan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:1-11) dan juga menyediakan kuasa bagi kelanggengan gereja, melalui kesaksian kepada dunia (Kisah Para Rasul 1:8).

4. Gereja Terpanggil sebagai Tubuh Kristus ( Efesus 4 1-16 ), Kami melihat dalam amanat rasul Paulus, ia telah menguraikan jalan pembentukan dan pelaksanaan maksud Allah yaitu untuk menyatukan bangsa yahudi dan non yahudi menjadi satu umat dibawah Kristus sebagai kepala,hal ini Nampak terwujud dalam misi Paulus. Kami juga melihat disini paulus menoleh pada tuaian misinya dalam pelayan Kekristenannya. Tetapi ajaran tentang satu kepala, satu tubuh, memerlukan penghayatan dalam Gereja yang banyaknya terdiri dari golongan orang-orang biasa.oleh karena itu, penjelasan mengenai Eklesiologi yakni tentang hubungan ideal antara Kristus dengan umatnya membuat Paulus beralih ke ajaran secara praktis dalam hidup sehari-hari. Disini Paulus juga memberikan gambaran yang menyeluruh tentang panggilan Gereja didunia ini ( Efesus 4 ; 1-16 ). Yang pertama, paulus menyerukan kepada Jemaat supaya hidup berpadanan dengan panggilan mereka didalam terang. Dimana tempat mereka dalam Gereja yang pada dasarnya adalah satu. Artinya bahwa kesatuan tidak berarti keseragaman yang kaku, karena Gereja adalah organisme yang mempunyai daya hidup dan terbentuk dari pribadi-pribadi yang hidup dan bertanggung jawab atas perkembangan watak dan kepribadian sesuai dengan karunia-karunia yang telah diberikan Kristus. Maksudnya adalah supaya Gereja mencapai “ Kedewasaan Penuh “ Dan untuk mencapai tujuan ini Kristus telah memberikan karunia-karunia untuk digunakan melalui pelayanan-pelayanan-Nya. Karena itu menurut kami, perkembangan Gereja haruslah ditandai oleh pertumbuhan dari tingkat kanak-kanak ke kedewasaan,sampai menerima watak Kepala-Nya yaitu Kristus ( Efesus 4;14-16 )

Refleksi

Jika kita melihat kembali uraian diatas maka cobalah kita sebagai umat Tuhan yang dalam hal ini kita adalah anggota tubuh dari Gereja sejenak merenungkan “ sudakah kita berusaha menuju kepada kesatuan dalam kata-kata dan perbuatan sebagaimana yang dikehendaki oleh Kristus ? ataukah sebaliknya kita tidak memaknai arti kesatuan dalam tindakan kita sehari-hari selaku anggota tubuh dari Gereja ? ” ini adalah satu tantangan bagi kita yang menjadi anggota tubuh Gereja dan Kristus. Apakah kita mampu menginplementasikan Kesatuan gereja sebagai tubuh Kristus itu ? jawabannya kita pasti bisa melakukannya jika didasarkan atas Kasih kepada Kristus dan sesama. Karena segala yang kita lakukan tanpa didasarkan atas Kasih, maka semuanya akan tak berarti dan sia-sia. Amin


Ketenangan Sejati

(Ditulis Oleh : Lastri)
Nats:Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (Mazmur62:2-3) Bacaan : Mazmur 62:1-13. Pada tahun 80-an ada sebuah film berjudul Bodyguard yang dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston. Film ini bercerita tentang Houston sebagai artis yang hidupnya dikelilingi oleh para penggemar fanatik yang ingin mencelakai dirinya. Untuk melindungi diri, ia lalu menggunakan jasa pengawal pribadi, seorang veteran angkatan perang. Dalam film itu ditunjukkan bagaimana peralatan canggih digunakan di seluruh rumah Houston untuk membuatnya bisa tidur tenang. Setiap orang tentunya ingin hidup tenang. Sebab apalah artinya kita memiliki segala sesuatu, tetapi hidup tidak tenang; selalu gelisah, galau, dan selalu dikejar ketakutan? Sayang orang kerap salah mencari sumber ketenangan. Misalnya, dengan menggantungkan hidup pada bodyguard, senjata, uang, atau jabatan. Ketenangan yang sejati tidak terletak pada semua itu, tetapi pada kedekatan dengan Tuhan. Sebab Tuhan adalah Pemilik sesungguhnya dari kehidupan ini. Tuhan adalah adalah sumber pengharapan dan perlindungan. Seperti yang disaksikan oleh Daud dalam Mazmur bacaan kita. Daud pernah hidup terlunta-lunta sebagai pelarian ketika dikejar-kejar oleh Saul yang ingin membunuhnya, dan ia merasakan betul bagaimana kasih dan kuasa Tuhan melindunginya. Anda mendambakan ketenangan? Kuncinya: jangan jauh-jauh dari Tuhan. Tidak berarti hidup kita kemudian menjadi lurus dan mulus, juga tidak lantas kita bebas lepas dari segala masalah. Tidak. Masalah dan rintangan bisa tetap ada, tetapi seberapa pun besarnya masalah yang mendera dan rintangan yang menghadang, itu tidak akan merenggut ketenangan kita.Amin

Keunikan Iman Kristen

(Oleh : Inke Mada & Ani Mooy)
Jelas, Iman Kristen unik, karena didasarkan bukan pada usaha manusia, melainkan pada anugerah Allah. Unik karena ALlah-lah yang mencari manusia dan bukan sebaliknya. Unik karena berpusat kepada Yesus, sang Anak Allah. Unik karena didasarkan atas Firman Allah yang diuji dalam sejarah. Tetapi keunikan iman kristen BUKAN dasar untuk merendahkan iman kepercayaan lain. Bukankah ketika sebelum kita diselamatkan, kita juga mempunyai respon yang sama terhadap wahyu Allah? TIDAK ADA yang mencari Allah, adalah DASAR untuk melihat bahwa semua iman kepercayaan agama lain adalah respon manusia berdosa terhadap wahyu. DISELAMATKAN OLEH ANUGERAH, adalah dasar untuk mengerti bahwa KITA (orang percaya) TIDAK LEBIH BAIK dari penganut agama yang lain. JAdi bagaimana apologetika kristen memandang hal ini? Karena itu apologetika kristen harus mempertimbangkan Dua point penting yaitu sebagai berikut:
SEGALA KEBENARAN ADALAH KEBENARAN ALLAH
: Segala kebenaran di dunia adalah bersumber dari Allah, karena itu adalah kebenaran Allah. Dalam bidang budaya, agama, ilmu pengetahuan, jika terdapat nilai kebenaran, semuanya bersumber dari Allah Pencipta. Karena status manusia yang korup, maka kebenaran dari Allah sering ditindas dan ditekan, sehingga standar kebenaran menjadi kabur. Moralitas dan pengajaran agama lain TIDAK SELALU bertentangan dengan ajaran Kristen. Karena itu, kebenaran juga terdapat dalam ajaran agama dan kepercayaan lain. Adalah merupakan kebodohan dan kesombongan jikalau kita merendahkan ajaran agama lain, tanpa mempelajari dengan seksama. Apalagi dalam kerangka pengertian respon manusia terhadap wahyu. Karena itu setiap orang kristen yang bertanggung jawab selalu menghargai seni, agama dan budaya di dalam dunia ini. Tetapi juga dapat membedakan dengan iman Kristen.
MANUSIA BUKAN STANDAR KEBENARAN ITU SENDIRI : Manusia bukan standar kebenaran, karena itu dia memerlukan iman kepercayaan. Manusia dicipta dalam keadaan adanya RELASI dengan Pencipta. Relasi dengan sesama dan relasi dengan diri sendiri. Manusia untuk mengetahui kebenaran harus balik kepada sumber kebenaran itu sendiri. Iman Kristen mengklaim bahwa Kebenaran itulah yang datang kepada manusia, bukan manusia yang mencari kebenaran sejati. Karena itu, iman kristen bersumber dari kebenaran Allah yang membenarkan (injil ). Iman kepercayaan lain bersumber dari kebenaran diri yang tidak benar. Apakah dengan demikian iman kristen menjadi superior? Tentu tidak. Bukankah kalau kebenaran ALlah tidak membenarkan, bagaimana kita bisa menjadi benar? Bagaimana mungkin menjadi superior dibanding iman lain? Kebenaran dari Allah itulah yang harus dikumandangkan kepada iman agama lain TANPA merendahkan iman mereka. Mengapa? karena masing-masing iman mempunyai presuposisi sendiri. Presuposisi iman kristen adalah kebenaran Allah. Presuposisi iman agama lain adalah kebenaran Allah yang TELAH direspon manusia berdosa. Masing-masing presuposisi tidak akan ketemu didalam satu titik.